“Atas nama Pemerintah Republik Indonesia maupun secara pribadi, saya mengucapkan Selamat Hari Suci Nyepi dan Tahun Baru Saka 1948,” ujarnya.
Ia menilai, perayaan Nyepi tahun ini memiliki makna tersendiri karena berlangsung berdekatan dengan momentum bulan suci Ramadan serta Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
"Pertemuan dua perayaan keagamaan tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dan toleransi antarumat beragama di Indonesia," lanjutnya.
Menag menegaskan bahwa kondisi tersebut sejalan dengan filosofi Vasudhaiva Kutumbakam, yang mengandung makna bahwa seluruh umat manusia adalah satu keluarga besar di bumi.
“Ini bukan sekadar kebetulan, tetapi menjadi pengingat bahwa kita hidup dalam semangat Vasudhaiva Kutumbakam: satu bumi, satu keluarga,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nasaruddin menjelaskan bahwa nilai kebersamaan itu juga tercermin dalam ajaran Catur Brata Penyepian, yang dijalankan umat Hindu selama perayaan Nyepi.
Ia menerangkan bahwa melalui Amati Geni, umat diajak menahan diri dari berbagai gejolak emosi seperti kemarahan dan ego.
Sementara Amati Karya dimaknai sebagai kesempatan untuk menghentikan aktivitas fisik dan melakukan perenungan diri.
Selain itu, terdapat pula Amati Lelungan, yang mengajarkan umat untuk tidak bepergian sehingga memberi ruang bagi alam untuk beristirahat.
Sedangkan Amati Lelanguan mengajak umat menjauh dari hiburan duniawi agar dapat mencapai kejernihan batin.
“Dengan menjalankan Nyepi, umat Hindu sejatinya memberi jeda kepada alam semesta. Jika kita memuliakan alam, maka alam pun akan memuliakan harkat kemanusiaan kita,” katanya.
Ia juga menyampaikan harapan agar semangat Vasudhaiva Kutumbakam terus mendorong umat Hindu untuk berperan aktif dalam menjaga kerukunan serta memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
“Semoga Ida Sanghyang Widhi Wasa senantiasa melimpahkan kedamaian, kesehatan, dan kesejahteraan bagi kita semua,” pungkasnya.